BLITARHARIINI.COM – Perjalanan perjuangan Sukarni Kartodiwirjo, pahlawan nasional asal Blitar, tak selalu mulus.
Sebelum mencapai puncak perannya dalam Proklamasi Kemerdekaan, ia harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk hidup dalam penyamaran dan penangkapan oleh penjajah Belanda.
Sejak tahun 1935, ketika ia menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Partai Indonesia (Partindo), Sukarni telah menjadi target utama intelijen Belanda.
Aktivitasnya yang vokal dan perannya yang sentral dalam menggerakkan semangat nasionalisme membuatnya harus bergerilya dan berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran aparat kolonial.
Dalam masa pelariannya, Sukarni menggunakan nama samaran Maidi. Penyamaran ini menjadi bagian dari strategi perjuangannya untuk terus bergerak dan mengorganisir perlawanan tanpa terdeteksi.
Namun, pada tahun 1941, nasib berkata lain. Sukarni yang tengah menyamar dengan nama Maidi akhirnya tertangkap oleh Belanda di Balikpapan.
Penangkapan ini mengakhiri sementara kebebasan Sukarni, dan ia harus mendekam di penjara sebagai tahanan politik. Namun, masa penahanannya tidak berlangsung lama.
Ketika Jepang menduduki Indonesia, semua tahanan politik dibebaskan, termasuk Sukarni. Pembebasan ini menjadi titik balik yang memungkinkan Sukarni untuk kembali berjuang dengan lebih leluasa.
Kesempatan ini dimanfaatkan Sukarni dengan sebaik-baiknya, yang kemudian berpuncak pada perannya yang sangat signifikan dalam peristiwa Rengasdengklok dan Proklamasi Kemerdekaan.
Kisah penyamaran dan penangkapan Sukarni ini menjadi bukti kegigihan dan ketabahannya dalam menghadapi tekanan penjajah, serta semangat juangnya yang tak pernah padam demi kemerdekaan Indonesia.