Scroll untuk baca artikel
Blitar Hari ini

Museum Penataran Blitar: Dari Koleksi Pribadi hingga Museum Regional Bersejarah

×

Museum Penataran Blitar: Dari Koleksi Pribadi hingga Museum Regional Bersejarah

Sebarkan artikel ini
Museum Penataran Blitar: Dari Koleksi Pribadi hingga Museum Regional Bersejarah

BLITARHARIINI.COM – Di tengah keindahan kompleks Candi Penataran, Blitar, berdiri sebuah institusi penting yang menjadi penjaga jejak peradaban masa lalu, yaitu Museum Penataran.

Keberadaan museum ini tidak lepas dari sejarah panjang upaya pelestarian benda-benda cagar budaya yang dimulai jauh sebelum museum ini resmi berdiri. Cikal bakal Museum Penataran dapat ditelusuri hingga tahun 1866, ketika K.P. Warsokusumo, Bupati Blitar kedua pada masa itu, berinisiatif mengumpulkan benda-benda arkeologis di Pendopo Kabupaten Blitar.

Inisiatif Warsokusumo ini menjadi fondasi awal bagi koleksi yang kelak akan menjadi bagian dari museum. Keberadaan benda-benda arkeologis tersebut bahkan telah dicatat dalam laporan-laporan peneliti terdahulu.

Salah satunya adalah J. Knebel pada tahun 1908, dalam karyanya yang berjudul Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC).

Dokumentasi visual berupa gambar juga pernah dilakukan antara tahun 1941 hingga 1953, yang kini dapat diakses melalui laman web Leiden University Libraries Digital Collections, menunjukkan betapa berharganya koleksi awal ini bagi dunia penelitian.

Perkembangan signifikan terjadi pada tanggal 2 Maret 1984. Di bawah kepemimpinan Bapak Sarjono, Bupati Blitar ke-20, sebuah museum arkeologi yang dikenal sebagai Museum Blitar didirikan di kompleks pendopo Blitar.

Penetapan museum ini secara resmi tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Nomor 38 Tahun 1984. Langkah ini menandai pengakuan formal terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya di Blitar, serta menyediakan wadah yang lebih terorganisir untuk koleksi-koleksi bersejarah yang telah terkumpul.

Seiring berjalannya waktu, jumlah koleksi museum terus bertambah, melebihi kapasitas Museum Blitar di pendopo. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah strategis dengan mendirikan bangunan museum baru.

Pada tahun 1996, bangunan Museum Penataran yang lebih representatif didirikan di Desa Penataran, lokasi yang lebih dekat dengan sumber-sumber arkeologis utama. Peresmian Museum Penataran ini dilakukan oleh Bapak Basofi Sudirman, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, menandai babak baru dalam sejarah permuseuman di Blitar.

Proses pemindahan koleksi dari Museum Blitar ke Museum Penataran dilaksanakan pada tahun 1998, melalui kerjasama antara pemerintah Blitar dan SPSP Jawa Timur (sekarang BPK Wilayah XI).

Pada tahun yang sama, Museum Penataran mulai difungsikan dan dibuka untuk umum, memungkinkan masyarakat luas untuk mengakses dan mempelajari kekayaan sejarah dan budaya yang tersimpan di dalamnya.

Dengan demikian, Museum Penataran tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga pusat edukasi dan penelitian yang vital bagi pemahaman sejarah lokal dan nasional.