BLITARHARIINI.COM – Nama ‘Istana Gebang’ mungkin terdengar megah, seolah merujuk pada kediaman resmi seorang kepala negara. Namun, bagi masyarakat Blitar, nama ini memiliki makna yang lebih dalam, terhubung langsung dengan sejarah dan jejak langkah Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Penamaan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah penghormatan dan pengakuan atas peran penting tempat ini dalam kehidupan Sang Proklamator.
Penamaan ‘Istana Gebang’ merujuk pada praktik penamaan tempat-tempat yang berkaitan erat dengan kegiatan Presiden Pertama Republik Indonesia. Kita mengenal Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Batutulis, Istana Cipanas, dan Istana Gedung Agung Yogyakarta, yang semuanya adalah kediaman atau tempat kerja resmi presiden.
Dalam konteks Blitar, Istana Gebang mengambil inspirasi dari tradisi ini, meskipun secara fungsi ia adalah rumah keluarga, bukan istana negara. Penamaan ini secara simbolis mengangkat derajat rumah tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi kepemimpinan Bung Karno.
Menariknya, di kalangan masyarakat Blitar, Istana Gebang juga dikenal dengan sebutan lain: ‘Rumah Bu Wardojo’. Nama ini muncul karena setelah orang tua Bung Karno wafat, penghuni utama rumah ini adalah kakak perempuan Bung Karno, Soekarmini, yang lebih dikenal dengan panggilan Bu Wardojo.
Keberadaan Bu Wardojo sebagai penerus estafet penjaga rumah ini memberikan sentuhan personal dan lokal pada identitas Istana Gebang. Nama ‘Rumah Bu Wardojo’ mencerminkan kedekatan masyarakat dengan keluarga Bung Karno dan bagaimana mereka mengenang sosok Soekarmini yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah rumah tersebut.
Dualisme penamaan ini ‘Istana Gebang’ yang formal dan ‘Rumah Bu Wardojo’ yang lebih akrab – menunjukkan bagaimana sebuah tempat dapat memiliki berbagai lapisan makna. ‘Istana Gebang’ menggarisbawahi signifikansi nasional dan historisnya sebagai bagian dari jejak Proklamator, sementara ‘Rumah Bu Wardojo’ menyoroti dimensi kekeluargaan dan lokalitasnya.
Keduanya saling melengkapi, memberikan gambaran utuh tentang sebuah situs yang bukan hanya penting bagi sejarah bangsa, tetapi juga bagi memori kolektif masyarakat Blitar.
Penamaan ‘Istana Gebang’ tidak hanya sekadar label geografis, melainkan sebuah simbol yang mengakar kuat dalam kesadaran kolektif bangsa. Kata ‘Istana’ sendiri, meskipun dalam konteks ini merujuk pada rumah pribadi, secara implisit mengangkat derajat tempat tersebut menjadi sebuah situs yang memiliki nilai historis dan kebangsaan yang tinggi.
Ini adalah cara masyarakat dan sejarah memberikan penghormatan kepada kediaman seorang proklamator yang telah mengukir sejarah. Sementara itu, ‘Gebang’ adalah nama kampung di mana rumah ini berada, memberikan sentuhan lokalitas yang kuat. Kombinasi keduanya menciptakan sebuah nama yang unik, memadukan keagungan nasional dengan identitas lokal yang otentik.