Scroll untuk baca artikel
Blitar Hari ini

Jejak Bung Karno di Istana Gebang Blitar: Dari Masa Muda hingga Perjuangan Kemerdekaan

×

Jejak Bung Karno di Istana Gebang Blitar: Dari Masa Muda hingga Perjuangan Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Jejak Bung Karno di Istana Gebang Blitar: Dari Masa Muda hingga Perjuangan Kemerdekaan

BLITARHARIINI.COM – Istana Gebang, sebuah kompleks bangunan bersejarah di Blitar, bukan hanya sekadar kediaman keluarga Bung Karno, melainkan juga saksi bisu perjalanan hidup Sang Proklamator, terutama di masa muda dan perjuangan kemerdekaan.

Terletak di Jalan Sultan Agung, Istana Gebang menjadi titik sentral bagi Bung Karno untuk kembali, mengisi ulang semangat, dan merajut strategi di tengah gejolak pergerakan nasional.

Keterikatan Bung Karno dengan Istana Gebang dimulai sejak ia mengenyam pendidikan di HBS Surabaya dan THS Bandung. Setiap kali libur tiba, Blitar dan Istana Gebang selalu menjadi tujuan utama. Di sinilah ia menemukan ketenangan dan kehangatan keluarga, jauh dari hiruk pikuk dunia pendidikan dan pergerakan yang mulai ia geluti.

Kunjungan-kunjungan ini membentuk fondasi emosional yang kuat antara Bung Karno dengan rumah masa kecilnya, yang kelak akan menjadi tempat ia kembali, bahkan di tengah badai perjuangan.

Pada masa memimpin pergerakan kemerdekaan, frekuensi kunjungan Bung Karno ke Blitar dan Istana Gebang tetap tinggi. Meskipun harus bergerak secara sembunyi-sembunyi dan menghadapi risiko penangkapan, ia tetap menyempatkan diri untuk berada di tengah keluarganya.

Istana Gebang menjadi semacam markas rahasia, tempat ia bisa berdiskusi, merencanakan strategi, dan mengumpulkan kekuatan moral dari orang-orang terdekatnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan yang akrab bagi seorang pemimpin pergerakan.

Namun, masa pembuangan memisahkan Bung Karno dari rumah dan keluarganya. Periode ini menjadi ujian berat, di mana ia harus berjuang sendiri tanpa kehadiran orang-orang terkasih di Istana Gebang. Meskipun demikian, semangat perjuangannya tidak pernah padam.

Pada Masa Pendudukan Jepang, ia sempat dapat berkunjung ke rumah, meski tidak terlampau sering, menunjukkan bahwa ikatan dengan Istana Gebang tetap ada, meskipun dalam keterbatasan.

Tragedi juga menyelimuti keluarga Bung Karno di Istana Gebang. R. Soekeni Sosrodiharjo, ayah Bung Karno, dan Ida Aju Njoman Rai, ibu Bung Karno, sempat diboyong ke Jakarta pada tahun 1944. Namun, pada 8 Mei 1945, ayah Bung Karno wafat dan dimakamkan di pemakaman Karet.

Sepeninggal suaminya, ibunda Bung Karno diboyong pulang ke Blitar oleh kakak Bung Karno, Soekarmini. Hal ini semakin memperkuat peran Istana Gebang sebagai pusat keluarga, tempat di mana suka dan duka dibagikan.

Bahkan setelah menjabat sebagai Presiden, Bung Karno senantiasa mengunjungi Istana Gebang untuk bersilaturahmi dengan ibunda dan keluarganya, menunjukkan bahwa jabatan tertinggi sekalipun tidak pernah memutuskan tali kasihnya dengan rumah dan orang-orang yang dicintainya.

Kunjungan ini terus berlanjut, bahkan untuk berziarah ke makam ibunya yang wafat pada 13 September 1958. Tahun 1964 tercatat sebagai tahun terakhir kunjungan Bung Karno ke Istana Gebang, sebelum beliau wafat pada tahun 1970, meninggalkan warisan sejarah yang tak ternilai di Blitar.