Scroll untuk baca artikel
Blitar Hari ini

Istana Gebang: Saksi Bisu Jejak Keluarga Proklamator di Blitar

×

Istana Gebang: Saksi Bisu Jejak Keluarga Proklamator di Blitar

Sebarkan artikel ini
Istana Gebang: Saksi Bisu Jejak Keluarga Proklamator di Blitar

BLITARHARIINI.COM – Selain Makam Bung Karno yang menjadi magnet utama wisatawan di Kota Blitar, terdapat sebuah situs bersejarah lain yang tak kalah penting dalam menelusuri jejak Sang Proklamator, yakni Istana Gebang.

Kompleks bangunan yang megah ini, berlokasi di Jalan Sultan Agung nomor 57-59 dan 61, Kampung Gebang, Kelurahan/Kecamatan Sananwetan, bukan sekadar rumah biasa, melainkan kediaman keluarga besar Bung Karno yang menyimpan segudang cerita.

Istana Gebang menempati lahan seluas 15.000 meter persegi, sebuah area yang cukup luas untuk menampung sepuluh bangunan berbeda. Bangunan-bangunan tersebut meliputi rumah induk, bangunan belakang, dua rumah keluarga, satu paviliun, balai kesenian, dapur belakang, rumah pembantu, bekas kandang kuda, dan lumbung.

Setiap sudut bangunan ini seolah memancarkan aura sejarah, mengingatkan pada kehidupan keluarga besar Soekarno sebelum ia menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat, kompleks Istana Gebang mulai ditempati oleh keluarga Bung Karno, termasuk orang tua dan kakak beliau, antara tahun 1917 hingga 1919.

Properti ini sebelumnya dimiliki oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama CH. Portier, sebelum akhirnya berpindah tangan menjadi milik keluarga Sosrodiharjo.

Pembelian dan kepemilikan rumah ini menjadi fondasi awal bagi Bung Karno untuk selalu kembali ke Blitar, kota yang menjadi saksi bisu masa mudanya.

Keberadaan Istana Gebang menjadi sangat vital dalam narasi sejarah Bung Karno. Rumah ini adalah tempat di mana ia kembali untuk melepas penat dari kesibukan pendidikan di HBS Surabaya dan THS Bandung.

Liburan sekolah selalu menjadi momen yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga di Blitar. Bahkan, di masa-masa awal memimpin pergerakan kemerdekaan, Bung Karno tetap sering menyempatkan diri untuk berada di Blitar, menjadikan Istana Gebang sebagai titik sentral pergerakannya di daerah.

Keterikatan emosional Bung Karno dengan Istana Gebang tidak pernah pudar, bahkan setelah ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Kunjungan-kunjungan silaturahmi kepada ibunda dan keluarga di Blitar menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari jadwal padatnya.

Istana Gebang, dengan segala kenangan dan sejarahnya, tetap menjadi rumah bagi Bung Karno, sebuah tempat di mana ia bisa kembali menjadi seorang anak dan anggota keluarga, jauh dari hiruk pikuk politik dan kenegaraan.

Keberadaannya hingga kini menjadi pengingat akan akar dan identitas seorang proklamator bangsa.
Secara arsitektur, Istana Gebang mencerminkan gaya bangunan kolonial Belanda yang dipadukan dengan sentuhan lokal.

Setiap ruangan di dalamnya, mulai dari ruang tamu hingga kamar tidur, seolah menyimpan bisikan sejarah, mengisahkan kehidupan sehari-hari keluarga Sosrodiharjo.

Perabotan antik yang masih terawat, foto-foto lama yang terpajang, serta suasana yang tenang dan asri, membawa pengunjung seolah kembali ke masa lalu, merasakan langsung atmosfer yang pernah dihirup oleh Bung Karno kecil dan keluarganya.